Social Icons

SALJU SHOP

Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Demam Berdarah



DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD), merupakan penyakit yang masih sering terjadi di sana-sini. Hal ini dikarenakan nyamuk penular dan virus penyebab penyakit ini terdapat di sekitar kita.

DI Indonesia, DBD pertama kali dicurigai di Surabaya (1968), tetapi konfirmasi analisisnya baru diperoleh tahun 1970. Untuk Jakarta, kasus pertama dilaporkan tahun 1969. Kemudian DBD berturut-turut dilaporkan di Bandung dan Yogyakarta (1972), Sumatera Barat, Lampung, Riau, Sulawesi Utara, dan Bali. Saat ini, DBD sudah endemis dibanyak kota, bahkan sejak tahun 1975 penyakit ini telah berjangkit di daerah pedesaan. Selanjutnya, sejak 1994, seluruh provinsi di Indonesia telah melaporkan adanya kasus DBD dan tahun 1996 polanya telah bergeser dari usia anak-anak ke usia dewasa juga.

Kematian penderita DBD diakibatkan penderita tidak segera mendapat pertolongan. Oleh karena itu, jalan terbaik untuk menghindarkan penyakit ini adalah dengan melaksanakan usaha pencegahan yang ditekankan pada usaha kebersihan lingkungan dan bila ada tanda terkena DBD cepat-cepat ditolong.

Tanda-tanda orang yang terkena demam berdarah, biasanya mengalami demam tinggi 2-7 hari, bintik-bintik merah di kulit bagian lengan dan tungkai, mimisan, perdarahan gusi, muntah darah, mengalami gelisah disertai keringat dingin. Bila tanda itu terus berlanjut dapat menimbulkan kematian.

Sesudah masa inkubasi selama 3-15 hari, orang yang tertular DBD dapat mengalami salah satu dari 4 bentuk kondisi berikut ini. Pertama, bentuk abortif, yaitu penderita tidak merasakan suatu gejala apapun. Kedua, dengue klasik, yaitu penderita mengalami demam tinggi selama 4-7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit. Ketiga, dengue haemorrhagic fever (demam dengue/DBD), yaitu gejalanya sama dengan dengue klasik, namun ditambah dengan perdarahan dari hidung, mulut, dubur, dan lainnya. Keempat, dengue syok sindrom (DSS), yaitu gejala sama dengan DBD dan ditambah dengan syok/presyok. Pada bentuk ini, sering kali terjadi kematian.

* *

TANDA umum nyamuk Aedes aegypti, sebagai vektor DBD yang dominan di Indonesia adalah badan dan kakinya berbintik hitam putih, hidup di dalam rumah dan sekitarnya, menggigit pada siang hari, bertelur di genangan air jernih, hidup di tempat yang agak gelap, lembab, dan kurang sinar matahari.

Sementara itu, cara penularan demam berdarah, berawal dari adanya orang sakit demam berdarah, kemudian digigit nyamuk (Ae. aegypti), sehingga bibit penyakit (virus) yang ada pada penderita masuk ke dalam tubuh nyamuk. Selanjutnya, apabila nyamuk tersebut menggigit orang sehat, maka orang itu akan tertulari virus dan terkena demam berdarah.

Pertolongan sementara bagi penderita demam berdarah di rumah adalah diberi minum sebanyak-banyaknya (jika penderita itu masih dapat minum) dengan air masak dibubuhi gula dan garam (larutan oralit), susu, air kelapa, air jeruk, dan atau air teh. Lalu, beri juga obat penurun panas.

Akhirnya, agar demam berdarah tidak terus terjadi dan menyebar, maka langkah terbaik adalah setiap kita harus berusaha membasmi sarang nyamuk penyebar virus dengue di rumah masing-masing. Tepatnya, pemberantasan DBD ini harus dititik beratkan pada pemberantasan vektor penularnya (Ae. aegypti). Yakni dengan cara mencegah jentik nyamuk agar tidak menjadi dewasa. Caranya, lakukan 3 M, yaitu menguras tempat penampungan air secara berkala; menutup rapat-rapat tempat penampungan air; dan mengubur atau menyingkirkan barang bekas. Inilah yang perlu dilakukan dalam keseharain masyarakat Indonesia. Ayo...., kita bisa berantas DBD!***


Arda Dinata
Peneliti di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Kemenkes R.I.


Kamis, 21 November 2013

Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita



”Nyamuk, lingkungan, dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.”

Nyamuk tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).

Menurut Upik Kesumawati Hadi & F.X. Koesharto (2006) menyebutkan kalau tempat seperti danau, aliran air, kolam, air payau, bendungan, saluran irigasi, air bebatuan, septic tank, selokan, kaleng bekas dan lainnya dapat berperan sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangan larva nyamuk. Nyamuk yang berada di sekeliling rumah seperti Culex quinquefasciatus, Ae. aegypti dan Ae. albopictus, tumbuh dan berkembang dalam genangan air di sekitar kediaman kita.

Dalam bahasa Singgih H. Sigit (2006), lingkungkan permukiman manusia yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan tempat tinggal berikut fasilitas yang berhubungan dengan pelbagai hajat hidupnya, termasuk juga jalan, selokan, berikut tanaman pekarangan dan hewan-hewan peliharaannya, merupakan sebuah ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan itu dibangun dan diciptakan terutama untuk kepentingan kenyamanan hidup manusia, tetapi pada kenyataannya banyak mahluk lainnya ikut memanfaatkan kondisi itu sebagai habitat, tempat istirahat serta tempat mencari makan.

Nyamuk adalah salah satu jenis hama yang kita kenal hidup atau berada di lingkungan permukiman manusia, yang keberadaannya dapat merupakan gangguan dan bahkan bahaya bagi para penghuni di suatu pemukiman penduduk. Jadi, betul ungkapan yang menyebutkan bahwa nyamuk, lingkungan dan manusia adalah tiga hal yang saling terkait. Ketiganya saling berinteraksi, mempengaruhi dan memberi kontribusi pada kondisi kesehatan masyarakat secara umum.

Kondisi seperti itulah, realita yang mesti kita sadari. Artinya seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan kita untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, inilah sesungguhnya kunci dari segala kunci dalam pengendalian terhadap bahaya nyamuk.***


Arda Dinata
Peneliti di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Kemenkes R.I.

Rabu, 20 November 2013

DBD dan Pemberdayaan Masyarakat

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan telah menetapkan 5 kegiatan pokok sebagai kebijakan dalam pengendalian penyakit DBD yaitu menemukan kasus secepatnya dan mengobati sesuai protap, memutuskan mata rantai penularan dengan pemberantasan vektor (nyamuk dewasa dan jentik-jentiknya), kemitraan dalam wadah Pokjanal DBD (kelompok kerja operasional DBD), pemberdayaan masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN 3M Plus) dan peningkatan profesionalisme pelaksana program.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi terjadi-nya peningkatan kasus, salah satunya dan yang paling utama adalah dengan memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pemberantas-an sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras-menutup-mengubur). Kegiatan ini telah diintensifkan sejak 1992 dan pada 2000 dikembangkan menjadi 3M Plus yaitu dengan cara menggunakan larvasida, memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk.

Selama ini berbagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam PSN-DBD sudah banyak dilakukan, tetapi hasilnya belum optimal dapat merubah perilaku masyarakat untuk secara terus menerus melakukan PSN-DBD di lingkungan masing-masing.

Untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat dalam PSN DBD, pada tahun 2004 WHO memperkenalkan suatu pendekatan baru yaitu Komunikasi Perubahan Perilaku/KPP (Communications for Behavioral Impact/COMBI), tapi beberapa negara di Asean (Malaysia, Laos, Vietnam), Amerika Latin (Nikaragua, Brazil, Cuba) telah menerapkan pendekatan ini dengan hasil yang baik. Di Indonesia sendiri sudah diterapkan daerah uji coba yaitu di Jakarta Timur dan memberikan hasil yang baik.

Pendekatan tersebut lebih menekankan pada kekompakkan kerja tim (sebagai tim kerja dinamis). Perumusan dan penyampaian pesan, materi dan media komunikasi direncanakan berdasarkan masalah yang ditemukan oleh masyarakat dengan cara pemecahan masalah yang disetujui bersama. Akhhirnya, dengan pendekatan KPP/COMBI diharapkan perubahan perilaku masyarakat ke arah pemberdayaan PSN dapat tercapai secara optimal.***

Arda Dinata
Peneliti di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Kemenkes R.I.

Selasa, 19 November 2013

Mengenal Demam Berdarah Dengue

Saat ini kita mesti waspada terhadap berbagai penyakit, termasuk demam berdarah. Oleh sebab itu kita mesti mengetahui ciri ciri demam berdarah dengue baik pada orang dewasa, pada anak, bahkan kepada balita sekalipun. Sebab jika kita lengah dan mengabaikan gejala penyakit demam berdarah, maka kematian bisa saja menjadi resiko tertinggi penyakit ini.

Jadi jika ada tetangga atau di lingkungan terdengar kabar menderita demam berdarah, maka waspadalah sebab penyakit ini di bawa oleh nyamuk yang artinya bisa saja nyamuk tersebut menyarang anda. Oleh sebab itu anda harus melakukan pencegahan dan mengetahui ciri ciri demam berdarah meskipun pada anak sekalipun, apalagi jika sedang terjadi musim hujan.

Ciri-ciri

Demam berdarah memiliki ciri yang beranekaragam mulai dari gejala pusing, rasa mual, batuk batuk, terkena pilek, tulang terasa nyeri, sakit diare, sakit tenggorokan, muncul bintik bintik merah dan yang paling tinggi terjadinya pendarahan.
Dan dari segi medis meiliki ciri darah mengental, hati dan limfa membesar, trombosit terus mengalami penurunan sampai kurang dari 100.000/mm.

Kita harus sangat waspada terhadap anak kita, sebab anak anka atau balita selalu cenderung tidak menghiraukan sakit yang mereka alami. Biasanya setelah cukup parah baru mereka akan terlihat, oleh sebab itu kitalah yang harus cekatan dan pandai menilai apakah anak kita sedang sakit atau tidak.
Pada dasarnya pada anak anak akan memiliki ciri yang sama dengan orang dewasa jika terkena demam berdarah, yaitu di mulai dengan demam, dan akan muncul bintik bintik merah pada tubuh.

Pencegahan
  • Tutuplah air yang anda taruh di air ataupun bak agar bibit nyamuk tidak bisa berkembang biak di sana karena nyamuk ini menyukai hidup di air bersih.
  • Jika anda membuang sampah seperti kaleng atau sampah yang bisa menampung dan di genangi air cobalah memendamnya.
  • Lakukanlah 3M, menutup, menguras, memendam/mengubur
  • Lakukanlah menggunakan pakaian berlengan panjang
  • Memasang obat nyamuk, baik bakar maupun elektrik
  • Ventilasi rumah di pasang kawat anti nyamuk
Nah itulah beberapa ciri ciri dan pencegahan demam berdarah yang patut kita ketahui dan kita terapkan dalam kehidupan sehari hari.

Senin, 18 November 2013

Sejarah Nyamuk

NYAMUK (Diptera: Culicidae) dipastikan lebih dulu ada di permukaan planet bumi daripada manusia. Menurut catatan Sugeng Juwono Mardihusodo (2003), dari Sub-Bagian Entomologi Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta disebutkan bahwa secara hipotetis, serangga yang tak bersayap telah ada dan berevolusi sejak era Paleozoikum, periode Silurian, antara 425 dan 405 juta tahun sebelum masehi (SM). Berdasarkan informasi dari Romoser WS (1981), serangga Endopterygota yang mengalami metamorfosis lengkap (halometabola) secara hipotetis telah ada dan berevolusi pada periode karboniferosa, antara 345 juta dan 280 juta SM, yang fosilnya tertua berumur antara 280 juta dan 230 juta tahun SM.

Jadi, memanglah benar kalau ada orang yang mengatakan nyamuk itu ternyata cukup tua umurnya di muka bumi. Fosil tertua nyamuk ditemukan di Pulau Isles, kepulauan Inggris, berumur sekira 35 juta tahun (Horsfall WR; 1972). Sekarang bandingkan dengan fosil tertua manusia (Homo sapiens) yang pernah ditemukan orang yang hanya berumur sekira 1,5 juta tahun. Artinya, jelas sekali kalau nyamuk itu lebih dahulu ada di bumi daripada manusia.

Fenomena ini, tentu ada keterkaitan antara tipe bagian mulut nyamuk dengan sumber bahan pakannya. Pada awalnya, sumber pakan darah untuk nyamuk adalah berbagai jenis binatang. Namun, belakangan dengan kehadiran manusia yang semakin meningkat populasinya dan mobilitasnya pada berbagai habitat, spesies-spesies nyamuk pun ada yang berasosiasi dengan manusia dalam bermacam tingkat kedekatannya pada ekosistem yang sama. Makanya, tidak aneh kalau saat ini sejumlah spesies nyamuk itu ada yang menjadi sangat antropofilik (baca: menjadikan manusia di dekat habitatnya menjadi sumber pakan darah utama).
Lebih jauh, kondisi adanya manusia yang berasosiasi secara tidak sengaja dengan nyamuk yang telah berubah perilakunya itu, kehidupan nyamuk menjadi terganggu. Hal ini berdampak pada frekuensi gigitan nyamuk yang juga mengisap darah manusia semakin tinggi, baik malam dan atau siang hari sejalan dengan peningkatan populasi nyamuk itu sendiri yang juga meningkat.

Jadi, keberadaan sifat antropofilik nyamuk (terutama Culicinae dan Anophelinae) itulah yang menimbulkan permasalahan kesehatan sejak awal kehidupan manusia di berbagai zona geografis, khususnya di daerah tropis dan sub tropis. Untuk itulah, setiap kita harus mampu untuk menyiasati nyamuk agar tidak kontak dengan manusia. Lantas, bagaimana seharusnya cara kita menyiasati nyamuk tersebut untuk tidak kontak dengan manusia?

Permasalahan kesehatan yang ditimbulkan oleh adanya aktivitas nyamuk itu sangat beragam. Ada nyamuk yang terbang berputar-putar dekat telinga, tentu hal ini sangat mengganggu dan menimbulkan kebisingan. Suara berdengung nyamuk sangat mengganggu ketenangan istirahat.

Lalu, gigitan nyamuk menimbulkan rasa sakit, nyeri, dan mungkin mengakibatkan reaksi alergi kulit dengan peradangan (dermatitis alergik) yang serius pada yang hipersensitif. Di sini, peristiwa yang membahayakan dalam kacamata kesehatan lingkungan adalah nyamuk vektor penyakit yang menginokulasikan berbagai jenis patogen (menyebabkan terjadinya penyakit) yang berbahaya, seperti parasit malaria (plasmodium), virus (dengue, yellow fever, Japanese encephalitis), dan cacing filaria (Wuchereria, Brugia). @ardadinata

Arda Dinata
Peneliti di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Kemenkes R.I.

Kamis, 14 November 2013

Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis*)

Foto: physio-pedia
FILARIASIS merupakan istilah lain dari penyakit kaki gajah. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.

Nyamuk adalah termasuk jenis serangga yang sebagian atau seluruh daur hidupnya berhubungan dengan air. Tepatnya, stadium pradewasa dari nyamuk (telur, jentik, dan pupa) berada di air, sedangkan masa dewasanya berada di luar perairan. Hebatnya lagi dari nyamuk ini, ia ternyata memiliki kesukaan berbeda-beda terhadap air. Ada nyamuk yang suka di air kotor, air tawar atau air payau yang jernih, dan ada pula yang suka di air yang keruh sebagai tempat berkembangbiaknya. Begitu pula dengan keadaan perairannya berbeda-beda. Ada yang banyak ditumbuhi tumbuhan air dan ada juga yang sedikit atau tidak ada sama sekali tumbuhan air.

Pertanyaannya adalah, apa hubungannya antara keberadaan tumbuhan air dengan keberadaan vektor filariasis itu? Dan bagaimana caranya untuk memberantas penyakit kaki gajah yang bikin ampun bagi penderitanya itu?

* *
SAAT ini, telah diketahui ada tiga spesies cacing filaria yang menyebabkan terjadinya penyakit kaki gajah, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia timori, dan Brugia malayi. Sementara itu, nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah di Indonesia telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Aedes, Armigeres, dan Mansonia.

Keberadaan beberapa jenis tumbuhan air tertentu di suatu perairan erat kaitannya dengan keberadaan nyamuk sebagai tempat inangnya. Adalah nyamuk Mansonia sp. yang telur, larva dan pupanya tidak terlepas dari keberadaan tumbuhan air (tumbuhan inang) di perairan.

Menurut Hadi Suwasono (1996), telur Mansonia ditemukan melekat pada permukaan bawah daun tumbuhan inang dalam bentuk kelompok yang terdiri dari 10-16 butir. Telurnya berbentuk lonjong dengan salah satu ujungnya meruncing. Lalu, larva dan pupanya melekat pada akar atau batang tumbuhan air dengan menggunakan alat kaitnya. Alat kait tersebut, kalau pada larva terdapat pada ujung sifhon, sedangkan pada pupa ditemukan pada terompet. Sehingga, dengan alat kait itu, baik sifhon maupun terompet dapat berhubungan langsung dengan udara (oksigen) yang ada dijaringan udara tumbuhan air.

* *
KEBERADAAN tumbuhan air mutlak diperlukan bagi kehidupan nyamuk Mansonia, dan kita tahu bersama kalau spesies nyamuk ini merupakan salah satu vektor penularan dari penyakit kaki gajah. Adapun tumbuhan air yang dijadikan sebagai inang Mansonia sp., antara lain eceng gondok, kayambang, dan lainnya.

Akhirnya, untuk memberantas dan memutuskan penularan penyakit kaki gajah ini, selain melakukan pengobatan pada penderita juga perlu dilakukan pemberantasan vektor penyakitnya. Caranya, bisa dengan menggunakan insektisida atau secara tidak langsung dengan herbisida yang mematikan tumbuhan inangnya. Atau bisa juga secara mekanis melakukan pembersihan perairan dari tumbuhan air yang dijadikan inang oleh nyamuk Mansonia sp.***

Arda Dinata,
Peneliti di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbang Kementerian Kesehatan RI.

Yayan Sofyan,
Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bakti Kencana, Bandung.

Catatan: *) Artikel ini pernah dimuat koran  Pikiran Rakyat Bandung edisi 9 Maret 2006.

Rabu, 13 November 2013

Pengendalian Nyamuk DBD dan Efesiensi Insektisida

Menurut catatan WHO-SEARO, pada 2005 Indonesia mengalami kasus demam berdarah terbanyak di Asia Tenggara (53%) dengan total 95.279 kasus dan 1.298 kematian (Intisari, Nov 2013).

Demam Berdarah ini merupakan salah satu penyakit yang masih jadi masalah di Indonesia. Kasusnya timbul tenggelam. Kalau mau jujur ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. 

Yang paling utama adalah masih tersebar dan nyamannya Aedes sp yang jadi nyamuk pembawa penyakit DBD ini berada di rumah dan lingkungan tempat tinggal manusia. Penangan kasus penyakit yang belum integral dan menyuruh.

Artinya, ketika di rumah kita ada yang sakit positif DBD, harusnya semua anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut diperiksa darahnya. Jangan-jangan anggota keluarga yang tidak sakit pun ternyata positif ada virus DBDnya. 

Hal ini kalau tidak dilakukan, maka bila anggota keluarga yang lain positif ada virus DBDnya dan tidak diobati. Sementara itu, di rumahnya ada nyamuk penular DBD, maka sangat besar kemungkinan penyakit tersebut akan muncul dan menyebar lagi.

Berburu Nyamuk

Dalam melakukan pengendalian penyakit DBD ini, kita bisa belajar dari apa yang dilakukan NEHCRI-suatu lembaga penelitian kerja sama antara Singapura dan Indonesia untuk mendeteksi penyakit khususnya TB dan Dengue.

Sejak tahun 2006, dr. Isra Wahid, PhD dan timnya dari NEHCRI berusaha menurunkan tingkat kasus demam berdarah dengue di Makassar. Alih-alih melakukan penyemprotan setelah laporan kasus diterima seperti perlakuan standar yang diterapkan oleh Dinas Kesehatan setempat, Wahid dan timnya justru melakukan penyemprotan jauh sebelum laporan kasus biasanya meningkat.

Dua bulan sebelum puncak musim hujan, survei terhadap Angka Bebas Jentk (ABJ) dilakukan oleh sekitar 1.000 kader dan petugas Puskesmas di Makassar selama dua minggu. Penentuan waktu survei ABJ serta penyemprotan in didapatkan dengan menarik mundur atu hingga dua bulan dari waktu prediksi puncak curah hujan tahunan yang dibuat oleh Badan Meterorologi dan Geofisika. Jika suatu Kelurahan memiliki angka bebas jentik kurang dari 60%, penyemprotan segera dilakukan tanpa mengganggu jadwal yang dilakukan oleh Dinkes.

Tindakan seperti itu, hasilnya ternyata cukup efektif. Sejak 2007 hingga 2011, Wahid dan timnya berhasil mengurangi infeksi virus dari rata-rata 896 kasus per tahun, menjadi 292 kasus per tahun. Bahkan pada tahun 2001, kasus demam berdarah di Makassar mencapai angka 1.718. Berkat metode tersebut yang dilakukan terus menerus setiap tahun, sepuluh tahun kemudian kasus dengue yang dimiliki Makassar hanya mencapai angka 86 kasus.

Lebih jauh, melalui metode seperti itu, menurut Wahid, justru insektisida digunakan secara lebih efesien, dan banyak nyamuk tak akan menjadi resisten di daerah tertentu.

Coba semua daerah endemis DBD di Indonesia melakukan hal tersebut, tentu kasus penyakit DBD akan menjadi menurun. Bagaimana ada daerah lain yang mau menerapkan metode tersebut? Saya tunggu kabar baik selanjutnya.

Pangandaran, 12 Nov 2013

SLIMMING SERIES

Dapat uang melalui internet